Ekspedisi 7 Summit oleh Anak Bangsa

Sebuah kebanggaan di dunia pendakian tanah air telah terukir indah. Ekspedisi 7 summit telah berhasil menancapkan merah putih di 7 puncak tertinggi dunia. Ekspedisi ini digagas oleh Wanadri bekerjasama dengan berbagai instansi dimulai sejak 2009 hingga 2013 mulai persiapan, keberangkatan dan kembali ketanah air. Berisikan para pendaki dengan semangat merah putih diantaranya :

  1. Muhammad Fajri
  2. Nurhuda
  3. Ardhesir Yaftebbi
  4. Iwan "kwechenk" Irawan
  5. Martin Rimbawan
  6. Gina Afriani

Ekspedisi ini hanyalah berawal dari obrolan ketua umum wanadri XXI saat itu Darmanto kepada kompatriotnya Ardhesir di sekretariat Wanadri 2009 silam. Obrolan saat itu diakhiri dengan tantangan Ardhesir untuk menziarahi 7 puncak es tertinggi di dunia. Tiga hari berselang Ardhesir datang kembali ke sekretariat dan menyodorkan proposal untuk berbagai ekspedisi ; Kilimanjaro, Elbrus dan 7 summit. "Kepalang gila lu! ya udah kita jadiin aja yang 7 summit, ucap Darmanto. Pasalnya Indonesia yang punya puncak es masa gak mampu sedangkan tetangga kita Singapura saja sudah berhasil mencatatkan 2 orang pendakinya di puncak tertinggi dunia. 

Langkah pertama pun dimulai. Bermula dari ide gila berlanjut ke pemikiran dan pertimbangan dari saudara-saudara di perhimpunan hingga masukan dari berbagai pihak sehingga rencana gila ini bisa terealisasi. Tim pun dibagi untuk menziarahi puncak pertama Nemangkawi (Carztensz Papua 4.884 mdpl). Dilanjutkan perjalanan jauh ke Afrika untuk menziarahi Kilimanjaro (Tanzania 5.885 mdpl). Setelah itu tim berbenah untuk mempersiapkan fisik, knowledge, peralatan dan sebagainya menuju rute selanjutnya di daratan eropa yaitu Mount Elbrus (Rusia 4.741 mdpl). Setelah menancapkan merah putih di puncak Mount Elbrus dalam waktu 3 bulan kemudian Tim kembali terbang ke Amerika latin untuk menziarahi Aconcagua (Argentina 6.962 m). Pada ekpedisi ini Tim banyak mendapati ilmu baru dari para pendaki dunia yang di temui pada shelter high altitute. Bekal ilmu ini dipakai untuk menziarahi puncak berikutnya yaitu Denali (Alaska 6.144 m) dan Vinson Massif (Antartika 4.892). Ketinggian  puncak ini memang tidak setinggi Aconcagua namun untuk mencapai pintu gerbang pendakian, Tim sudah mendapat cobaan dari dinginnya wilayah Antartika dan Alaska. Puncak terakhir untuk di ziarahi adalah klimaks dari ekspedisi ini. Tidak main main, tim mempersiapkan semua kemungkinan terburuk. Betapa tidak, puncak tujuan terakhir ini adalah ijazah bagi para pendaki dunia dan merupakan "Death Zone" bagi para pendaki. Everest (8.848 mdpl) menjadi perhatian seluruh tim dan mempersiapkan fisik dan olah otak selama 1 tahun sebelum terbang menuju Himalaya Nepal melalui 2 pintu pendakian yaitu Chomolungma dan Sagarmata. 

Puji sukur kehadirat Allah SWT, Tim berhasil menaklukan puncak tertinggi dunia itu dengan selamat dan kembali ke tanah air. Walau ada sedikit insiden dengan hilangnya jari seorang pendaki yang harus di amputasi karena serangan udara dingin pada ketinggian tertentu. Banyak cerita dan pengalaman dari perjanan ekspedisi ini. Tahun 2022 journey ini dibukukan dengan launchingnya sebuah buku berjudul 7 Summit Expedition 2010-1012. 

Buku dan pengalaman ini kami dedikasikan untuk dunia pendakian Indonesia. "Sedikit yang dapat kami berikan, semua itu kami berikan untuk bangsa dan negara" ucap Darmanto


Komentar (0)

Silakan login untuk mengisi komentar